PEMERIKSAAN MATA MENGGUNAKAN METODE DISOSIASI PRISMA DUOCHROME PADA KESEIMBANGAN BINOKULER SANTRI PONDOK PESANTREN BAITUL HIDAYAH
- Arief Witjaksono Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma Husada, ID
- Hotman P Simajuntak Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma Husada, ID
- A Orbit Mawardi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma Husada, ID
- Nur Ismail Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma Husada, ID
- M. Ridwan Aziz Sofyan Dharma Husada College of Health Sciences, ID
Abstrak
Keseimbangan binokuler merupakan aspek penting dalam sistem penglihatan yang memengaruhi kualitas penglihatan dan kenyamanan dalam melihat objek secara bersamaan oleh kedua mata. Pemeriksaan keseimbangan binokuler dapat dilakukan menggunakan metode disosiasi prisma duochrome, yang berfungsi mengevaluasi kestabilan fusi binokuler dan keseimbangan akomodasi-konvergensi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Baitul Hidayah, Kabupaten Bandung, dengan sasaran pemeriksaan sebanyak 399 santri. Tujuan kegiatan ini adalah mendeteksi gangguan refraksi serta mengevaluasi keseimbangan binokuler menggunakan metode prisma duochrome pada populasi santri pondok pesantren sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif gangguan penglihatan. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kelainan refraksi ditemukan pada 23,5% santri laki-laki, sementara hanya 1,0% santri perempuan yang mengalami kelainan refraksi. Kelainan refraksi paling banyak ditemukan pada kelompok usia 12–16 tahun, dengan prevalensi 16,0%. Jenis kelainan refraksi yang paling banyak ditemukan adalah miopia (14,3%), diikuti oleh astigmatisme (10,3%). Selain itu, hasil pemeriksaan keseimbangan binokuler mengungkapkan bahwa 27,8% santri mengalami ketidakseimbangan binokuler, yang berpotensi memengaruhi kenyamanan penglihatan dan proses pembelajaran mereka. Temuan ini menunjukkan perlunya perhatian lebih terhadap kesehatan mata di lingkungan pesantren, khususnya dalam melakukan skrining secara berkala. Pemberian koreksi optik yang tepat dan edukasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan mata sangat dianjurkan, baik untuk santri maupun pengasuh pondok pesantren. Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan berbasis komunitas untuk mendeteksi dan menangani gangguan penglihatan pada usia remaja, guna mendukung pembelajaran yang optimal dan kualitas hidup santri yang lebih baik.