DETEKSI DINI DAN PEMERIKSAAN KELAINAN ASTIGMATISME DENGAN METODE CROSS CYLINDER DI RT 001 RW 022 PONDOK UNGU PERMAI BEKASI
- Nuraisah Nuraisah PMN RS Mata Cicendo Bandung, ID
- Arief witjaksono Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma Husada, ID
- Nurwidianto nurwidianto Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma Husada, ID
- Irfan Abdussalam Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma Husada, ID
- Gina Mardiatul Karimah Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma Husada, ID
- Firman Saepulloh Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma Husada, ID
Abstrak
Kelainan refraksi merupakan salah satu penyebab gangguan penglihatan yang umum terjadi di masyarakat dan sering kali tidak terdeteksi sejak dini. Salah satu jenis kelainan refraksi yang membutuhkan teknik pemeriksaan khusus adalah astigmatisme, yang dapat menyebabkan penglihatan kabur atau berbayang pada semua jarak. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk melakukan deteksi dini dan pemeriksaan kelainan astigmatisme menggunakan metode cross cylinder di wilayah RT 001/RW 022 Pondok Ungu Permai, Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Metode cross cylinder dipilih karena memiliki akurasi tinggi dalam menentukan silinder subjektif pada pasien dengan astigmatisme. Pemeriksaan dilakukan terhadap 103 orang klien dengan berbagai usia. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa dari 103 klien yang diperiksa, ditemukan kelainan refraksi dengan proporsi terbanyak adalah hipermetropia (22,33%), diikuti oleh astigmatisme (20,81%), dan miopia (10,19%). Selain itu, sebanyak 93 klien (90,29%) terdiagnosis presbiopia, dan 3 klien (2,91%) diduga mengalami kelainan organik berupa katarak. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun fokus utama kegiatan adalah pada astigmatisme, proporsi kelainan refraksi lain dan kelainan organik juga signifikan dan perlu mendapatkan perhatian. Kegiatan ini memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dalam mengenali kondisi penglihatan mereka dan mendorong tindak lanjut pemeriksaan lebih lanjut ke fasilitas kesehatan mata. Diharapkan kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan mata masyarakat.
Referensi
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Situasi Gangguan Penglihatan dan Kebutaan. Jakarta: Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI.
- World Health Organization (WHO). (2019). World Report on Vision. Geneva: WHO Press.
- American Optometric Association. (2020). Clinical Practice Guidelines for the Care of Patients with Presbyopia. St. Louis: AOA.
- Grosvenor, T. P. (2007). Primary Care Optometry (5th ed.). St. Louis: Butterworth-Heinemann.
- Elliott, D. B. (2014). Clinical Procedures in Primary Eye Care (4th ed.). London: Elsevier.
- Kemkes.go.id. (2020). Katarak Jadi Penyebab Terbanyak Kebutaan di Indonesia.
- Benjamin, W. J. (2006). Borish’s Clinical Refraction (2nd ed.). St. Louis: Elsevier.
- Millodot, M. (2017). Dictionary of Optometry and Vision Science (8th ed.). Elsevier Health Sciences.
- Resnikoff, S., Pascolini, D., Mariotti, S. P., & Pokharel, G. P. (2008). Global magnitude of visual impairment caused by uncorrected refractive errors in 2004. Bulletin of the World Health Organization, 86(1), 63–70.
- Naidoo, K. S., & Jaggernath, J. (2012). Uncorrected refractive errors. Indian Journal of Ophthalmology, 60(5), 432–437.