Langsung ke konten

DETEKSI DINI GANGGUAN PENGLIHATAN BINOKULER DAN PENYULUHAN PEMILIHAN LENSA TEPAT BAGI SANTRI PESANTREN SIRNARASA KABUPATEN CIAMIS

  • Hotman P Simajuntak Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma Husada, ID
  • Trisno Subekti Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma Husada, ID
  • Ahmad Solehudin Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma Husada, ID
  • Andriansyah Fawwaz Ghozi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma Husada, ID
  • Ghefira Nurhaliza Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma Husada, ID
  • Nuri Trisnovianti Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma Husada, ID
  • Eka Prasetia Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma Husada, ID
  • Muhammad Zulfikar Kusuma Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma Husada, ID

Abstrak

Penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan mata di Pondok Pesantren Sirnarasa, Kabupaten Ciamis, dilakukan untuk mengetahui hubungan titik fokus lensa terhadap penglihatan binokuler santri. Kegiatan ini bertujuan untuk mendiagnosis kelainan refraksi serta memberikan pemahaman mengenai pentingnya pemeriksaan penglihatan untuk mencegah gangguan penglihatan lebih lanjut. Data diperoleh dari pemeriksaan refraksi yang dilakukan pada 69 klien santri di Pondok Pesantren Sirnarasa, Dusun Ciceuri, Desa Ciomas, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat. Hasil pemeriksaan menunjukkan prevalensi kelainan refraksi yang signifikan, dengan astigmatisme sebagai kelainan refraksi yang paling sering ditemukan (31,18%), diikuti oleh miopia (6,52%) dan hipermetropia (4,34%). Selain itu, sebanyak 40,58% santri didiagnosis dengan presbiopia, sementara 5,06% lainnya terdiagnosis suspect kelainan organik, seperti katarak dan ambliopia. Temuan ini menyoroti pentingnya pemeriksaan refraksi dan penanganan kelainan refraksi pada usia muda, terutama dalam konteks penglihatan binokuler. Hasil kegiatan ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru bagi pihak terkait dalam menyusun kebijakan kesehatan mata berbasis komunitas untuk meningkatkan kualitas penglihatan santri dan mencegah dampak jangka panjang dari kelainan refraksi yang tidak terdeteksi. Intervensi lebih lanjut melalui penggunaan lensa korektif sesuai dengan titik fokus yang tepat dapat membantu dalam meningkatkan kualitas hidup santri.