Gambaran Budaya Pemberian MP-ASI di Desa Mundu Pesisir Kabupaten Cirebon
- Rt. Zulfa Nur Azzah Universitas Padjadjaran, ID
- Ermiati Ermiati Universitas Padjadjaran, Indonesia, ID
- Nenden Nur Asriyani Maryam Universitas Padjadjaran, ID
Abstrak
Budaya pemberian MP-ASI dini pada bayi sangat beresiko terjadinya gangguan pencernaan karena di usia <6 bulan, sistem pencernaan bayi belum sempurna. Namun, budaya tersebut masih banyak dilakukan salah satunya di Desa Mundu Pesisir, laporan pelayanan puskesmas menunjukkan 87,17% bayi di desa tersebut telah diberi MP-ASI dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran budaya pemberian MP-ASI di Desa Mundu Pesisir Kabupaten Cirebon.
Rancangan penelitian menggunakan deskriptif kuantitatif dengan teknik random sampling pada 94 ibu yang memiliki anak usia 6-24 bulan. Instrumen menggunakan kuesioner yang dibuat peneliti dan telah dilakukan uji konten oleh expert di bidang maternitas serta dinyatakan valid dengan rentang 0,450-0,773 dan reliabel dengan nilai 0,702. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Mei hingga April 2018 di Desa Mundu Pesisir.
Hasil penelitian menunjukkan, budaya MP-ASI dini yang masih dilakukan adalah pemberian pisang kerok (73,4%), pemberian bubur susu dan mengoleskan madu ke langit-langit mulut bayi (62,8%), ibu tidak makan sambal (58,5%) dan tidak makan udang (56,4%) pada masa menyusui. Sedangkan budaya yang mulai ditinggalkan yaitu pemberian makanan yang dilumatkan (87,2%), pemberian air tajin (75,5%), pemberian jamu di cekok (84,0%), dan nyapih dini (76,6%).
Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bayi di Desa Mundu Pesisir beresiko terkena gangguan saluran cerna karena mereka sudah diberi MP-ASI dini sehingga diperlukan strategi untuk mengubah pola perilaku ibu dengan menggunakan media yang tepat.